Selasa, 25 April 2017

WANITA PENGABDI

13.38 0 Comments
Asiah. Seorang wanita yang taat kepada Allah dan taat kepada suami nya. Meskipun sang suami adalah seorang yang telah di laknat kepada Allah swt, Fir’aun la’natullah ‘alaih. Sering kali Asiah di siksa oleh sang suami, tetapi pengabdian kepada suami adalah salah satu kewajiban dari seorang istri.
Satu lagi, istri nabi Allah, istri nabi Ayub as. Seorang yang penyabar, dan tetap taat kepada suami nya, meskipun sang suami mengalami penyakit yang sangat menjijikan. Tetapi, sebagai istri bagaimanapun keadaan suaminya. ia harus bisa tetap melayani suami dengan sebaik-baiknya.
Mendapatkan seorang wanita yang shalihah dan taat kepada suami adalah salah satu impian bagi seorang lelaki yang akan melangsungkan kehidupan berumah tangga. 
Sama-sama memantaskan diri lah yaa :)
Seorang aktifis dakwah, atau pasangan yang sama-sama aktifis dakwah harus bisa saling menerima satu sama lain. Tak banyak menuntut. Setiap pasangan itu memiliki kekurangan dan kelebihan. Maka dari itu, Allah meniciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling berpasang-pasangan dan saling melengkapi satu sama lain. 
Ga harus aktifis dakwah aja pastinya,  setiap pasangan itu kudu bisa saling menerima satu sama lain, jangan mikirin sendiri aja~
Seorang wanita pengabdi itu harus bisa menjaga kehormatan suami nya. Karena, jika seorang menjaga kehormatan suami nya berarti sama dengan menjaga kehormatan dirinya sendiri. Dan seorang wanita pengabdi juga harus ingat bahwa mengurus rumah lebih mulia daripada menjadi wanita karir. Dan harus di ingat pula, jihadnya seorang wanita (istri) itu di rumah. Dan setiap kelelahannya di balas syurga olehNya.
Oiya, selama suami masih bisa menyanggupi mencari nafkah untuk keluarga nya, dan jika suami meminta sang istri untuk tetap di rumah saja, tak usah menjadi wanita karir. Tapi lain lagi jika ada kesepakatan di antara kedua nya.
Menjadi ahli surga bagi seorang wanita (re: istri) sangatlah mudah, cukup mendapatkan ridha dari sang suami. Ingat, ridha nya suami. Bagaimanakah cara nya mendapatkan ridhanya? 
Beberapa hal yang pernah saya catat dari seorang ustadz, yaitu :
  1. Menservice suami dengan sebaik-baik pelayanan.
  2. Mentarbiyah dan mengurus anak, mendidik dengan kasih sayang. Dan perlu di ingat, bahwa wanita yang cerdas akan melahirkan generasi yang cerdas pula.
  3. Mengurus dan merawat rumah dengan sebaik-baiknya.
Sebelum menikah, persiapkan dengan matang. Jangan asal-asalan. Jangan sampai hanya karena dia kaya dan berpendidikan tinggi tapi tak memiliki akhlaqul karimah kita jadikan pasangan, percuma. 
Carilah pasangan yang bisa membawa kita ke surga bersamanya :)

Flashback dikit yaa :)

1. Periode Pra Nikah
Seorang muslimah memiliki kewajiban pertama yaitu pada dirinya sendiri. Kewajiban kepada diri sendiri di antaranya yaitu menjalankan kewajiban utama kita sebagai hamba Allah dengan menjaga dan mensyukuri apa yang Allah berikan kepada kita. Setelah menjalankan kewajiban utama kepada diri sendiri, peran seorang muslimah sebelum menikah yaitu sebagai anak. Maka dari itu, kewajiban muslimah yang kedua pada periode pranikah adalah kepada orang tuanya.
Pada periode inilah seorang muslimah memiliki kewajiban utamanya yaitu birrulwalidain (berbakti kepada orang tua), karena seorang muslimah masih menjadi tanggung jawab penuh walinya (ayahnya) sebelum muslimah itu menikah. Kita patut bersyukur kepada Allah karena dilahirkan dari orang tua yang beragama Islam. Berbeda dengan perjuangannya Nabi Ibrahim, yang harus berdakwah kepada umatnya sedangkan ayahnya adalah seorang pembuat patung berhala. Ayah Nabi Ibrahim adalah seorang kafir penyembah berhala, sedangkan Nabi Ibrahim saat itu sudah mengakui adanya Allah, satu-satunya Tuhan yang wajib disembah. Sebagai seorang anak, Nabi Ibrahim pun berusaha menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya dengan mendoakan ayahnya tetapi tidak mengikuti keyakinan ayahnya tersebut. Selain itu, kita pun mempunyai teladan paling mulia yaitu nabi Muhammad SAW dalam berbakti kepada orang tuanya yaitu ibu, kakek, paman, dan kerabatnya. Orang tua yang utama memang ayah dan ibu, tetapi orang-orang selainnya yang telah merawat kita semenjak kecil, mereka juga disebut orang tua. Nabi Muhammad SAW saat anak-anak sudah bekerja keras membantu paman dan bibinya menggembala kambing, bahkan sering ikut berdagang.
Kewajiban utama anak terhadap orang tuanya ada 4, yaitu membantu pekerjaannya, merawat orang tuanya saat sakit dan tua, mendoakannya, dan menunaikan janji orang tua.
Pertama, seorang anak yang masih tinggal bersama orang tuanya wajib membantu orang tuanya di rumah. Hal yang paling sederhana adalah melakukan sendiri kewajiban-kewajibannya di rumah, seperti merapikan kamar tidurnya sendiri, menyiapkan keperluan sekolahnya sendiri, dan menjaga barang-barang miliknya. Jika anak sadar dan melakukan tiga hal sederhana tersebut, pekerjaan orang tua di rumah akan semakin ringan. Alangkah baiknya lagi jika kita bisa membagi waktu kita di rumah untuk meringankan pekerjaan yang lain, seperti menyapu, mencuci, atau memasak.
Kedua, seorang anak wajib merawat orang tuanya saat sakit. Saat kita masih bayi, orang tua sampai tidak tidur untuk merawat kita ketika sakit. Apakah sekarang setelah kita dewasa, orang tua kita sakit, kita titipkan mereka di rumah sakit dan membiarkan dokter atau orang lain yang merawatnya? Orang tua yang sedang sakit sangat menginginkan kehadiran dan perhatian anak-anaknya, bukan sekadar kesembuhan dari sakitnya. Terlebih lagi jika orang tua kita nanti telah lanjut usia. Jangan sampai kita menyia-nyiakan orang tua kita saat mereka telah lanjut usia, karena mereka tidak pernah menyia-nyiakan kita saat kita masih dalam gendongannya dulu.
Ketiga adalah mendoakan orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Di dalam shalat kita, ada satu doa wajib yang kita haturkan kepada Allah, yaitu doa untuk orang tua. Doa adalah wujud bakti anak yang paling mudah dilakukan. Namun, berdoanya harus dengan tulus ikhlas, karena syarat dikabulkannya doa adalah dengan ketulusan dan keikhlasan karena Allah. Selain berdoa untuk kebaikan orang tua, kita juga berkewajiban untuk memintakan ampunan atas dosa dari orang tua.
Keempat, menunaikan janji kedua orang tua. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari, seorang wanita datang kepada nabi Muhammad SAW lalu bertanya, “Ibuku pernah bernadzar untuk menunaikan ibadah haji, tetapi meninggal sebelum menunaikannya. Apakah aku harus berhaji untuknya?” Nabi SAW menjawab, “Ya, berhajilah untuknya. Bukankah engkau mengetahui bahwa ibumu mempunyai utang, engkau yang akan membayarnya? Tunaikanlah hajinya, karena itu adalah hak Allah.” Janji orang tua yang baiklah yang harus ditunaikan, jika janji atau keinginan orang tua itu tidak sesuai syariat Islam, kita tidak perlu melakukannya.
Selain keempat itu, kita pun berkewajiban untuk berbuat baik dan menyambung silaturahim kepada kerabat dan orang-orang yang dekat dengan orang tua kita. Menyambung silaturahim itu termasuk dalam wujud kita berbakti kepada orang tua. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahim.”(H.R. Bukhari)
2. Periode Menikah
Ketika seorang muslimah telah menikah, bukan berarti kewajibannya terhadap orang tua itu ditinggalkan, tetapi kewajibannya akan bertambah ketika muslimah itu masuk masa menikah. Setelah menikah, seorang muslimah mempunyai kewajiban kepada suami, anak, dan keluarga suami. Banyak keutamaan muslimah yang telah menikah, salah satunya adalah mendapat ridha Allah. Ridha Allah kepada seorang muslimah yang belum menikah adalah bergantung pada ridha orang tua, setelah menikah ridha Allah kepada seorang muslimah bergantung pada ridha suaminya. Ridha Allah itu akan didapatkan seorang muslimah jika ia taat dalam hal kebaikan kepada suami, maka balasannya adalah memasuki Surga dari pintu manapun yang dia kehendaki. Sabda Rasulullah SAW “Jika seorang wanita shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, dan taat kepada suaminya, dia berhak masuk Surga dari pintu manapun.”
Keutamaan berikutnya adalah mendapatkan ampunan dari Allah. Dari hadits diriwayatkan, “Saat itu burung-burung di udara, hewan di lautan, dan para Malaikat memohon ampunan kepada Allah bagi wanita yang taat kepada suaminya dan suaminya ridha kepadanya.”
Seorang muslimah mendapatkan banyak pahala saat mengandung, merawat, dan membesarkan anak-anaknya. Saat muslimah mempunyai anak, kewajiban utama seorang muslimah (ibu) adalah mendidik anak-anaknya dengan pendidikan terbaik dan akhlak yang mulia. Di Akhirat nanti, kita sebagai orang tua akan diminta pertanggungjawabannya atas amanah berupa anak yang merupakan titipan Allah, apakah kita telah mendidiknya di jalan Allah atau tidak.
Kewajiban yang terakhir adalah kepada keluarga suami. Menikah bukan hanya menyatukan dua orang, tetapi lebih dari itu yaitu menyatukan dua keluarga. Sebagai seorang muslimah, kita harus mengenali keluarga kita sendiri dan jika sudah menikah kita juga harus mengenal keluarga suami. Tentunya tidak sebatas mengenal saja, tetapi harus berbuat baik dan menjaga silaturahim karena hak keluarga suami sama dengan hak keluarga kita sendiri.
Mintalah kepada Allah swt untuk menjadikan kita sebagai wanita yang shalihah yang dapat mengabdi kepada suami nya dan mendapatkan ridha dari nya, dan  akan hidup di surga bersama dengan keluarga nya.
Wanita shalihah adalah penghuni surga yang akan menjadi bidadari bagi suaminya yang shalih, dan ia akan menjadi permata hidup di dunia sampai dengan akhirat.
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah.” (H.R. Muslim)
wallahu a’alam.

Lelaki Romantis

13.32 0 Comments
Lelaki romantis itu… adalah ia yang mengait tangan kita menghimpun doa, berpacu dan berlomba dalam ibadah-ibadah taqwa…
Lelaki romantis itu.. adalah ia yang bersedia membantu di tengah keletihan mengurus rumah tangga. Ia yang bersedia berkorban lebih letih untuk istrinya…
Lelaki romantis itu.. adalah ia yang mengingatkan kebaikan saat hati merasakan kelemahan iman. Adalah ia yang menguatkan, saat ujian-ujian berdatangan…
Lelaki romantis itu, adalah ia yang menghantar setiap langkah bersama menuju surga. Mengusap letih, menghilangkan perih, memberikan semangat jiwa. Agar setiap degup nadi tak lepas dari mengharap ridha-Nya…
Iya, definisi romantis kami mungkin telah berganti, saat gerak raga jauh melebihi apa yang mampu diucap kata. Maka bersyukurlah mereka yang memiliki suami romantis dalam kesehariannya, dan lebih tertunduk syukurlah saat sang suami mampu memuliakan istri dengan gerak langkahnya. Tak perlu kau ragu atau cemburu, karena lelah keringat dan pengorbanannya merupakan bukti besarnya cinta. Saat berfastabiqul khairat menjadi prinsip berumah tangga, semoga kebaikan dan keberkahan yang akan mengiring masa…. []
*versi Mbak  Dewi Nur Aisyah

Visi Misi Keluarga Surga

12.49 0 Comments

Berbicara tentang pernikahan kami yang sudah berlangsung 1 tahun 7 bulan, kami merasa perlu merevisi visi misi pernikahan serta me-refresh kondisi keluarga kami. Di awal, kami menamai keluarga kami: Keluarga Pemecah Masalah. Lalu kami ganti menjadi Keluarga Berkah. Kemudian di awal tahun 2017, kami merasa perlu membenahi nama keluarga kami sesuai tujuan kami, agar mudah diingat, sejuk didengar, serta sesuai dengan visi besarnya: Keluarga Surga.
Selain visi misi, kami juga membahas core value dan resolusi keluarga tahun 2017. Hal ini kami lakukan untuk memberikan gambaran tentang apa saja yang ingin kami lakukan  selama 1 tahun ini. Metode yang kami lakukan adalah diskusi/brainstorming dengan mindmap.
Motto:
Explore and explode
Visi:
Pulang ke kampung Surga dengan mengajak sebanyak-banyaknya umat manusia
Misi:
– Saling mengingatkan dalam kebaikan
– Menjadikan Islam sebagai Way of Life
– Mencetak generasi soleh/ah
– Belajar bersama
– Dakwah dan dagang
– Menjelajah dan berkoneksi
Core Value:
– Halal
– Bermanfaat
Resolusi 2017:
Finansial
Pemasukan:
-Program bengkel dijual ke bengkel di P. Jawa mulai Februari 2017
-Darul Arqam
-Web design
Agama
-Umrah ber-3
-Shalat witir dan tahajud
-Hafalan 20 surat Juz Amma: Eci
-Hafalan ar-rahman: Ken
Kesehatan
– Food combining
– Olahraga setiap hari
Proyek
– Alana Magz: Freemium e-magz mulai 8 Maret 2017, memberikan sneak peek article di web, sosialisasi melalui twitter dan instagram
– Buku Kata Ayah: 31 Januari 2017, penerbit dan POD
– Twin Path: Bagikan free ebook, terbit pronoun.com, relayout quotegraphics
Anak
– Baby-Led Weaning and homemade recipes
– Beli Duplo
– 1 Year portfolio
Pendidikan
– Kelas IIP
– Writing free course
– Join Publishing community
Hiburan
– Jalan-jalan ke min. 1 negara
– 1 Film tiap bulan
– Gadget: lenovo miix 3 dan xiaomi redmi 4a
Hubungan
– Talk to strangers
– No Ghibah
– WA/Telpon keluarga 1 minggu 1x
© Keluarga Surga 2017

Keluarga pembelajar, ilmu luar biasa dari keluarga mba Ersti 
sumber : Adiar Ersti

Perempuan Kuat vs Perempuan Berkekuatan

12.41 0 Comments
Sumber : adiarersti
Seorang perempuan kuat selalu berolahraga setiap hari untuk menjaga bentuk tubuhnya, sedangkan seorang perempuan yang berkekuatan selalu bersujud untuk menjaga keutuhan jiwanya.
Seorang perempuan yang kuat tak pernah takut atas apapun, sedangkan seorang perempuan yang berkekuatan mampu memunculkan keberaniannya justru ditengah ketakutannya.
Seorang perempuan yang kuat tidak akan membiarkan dirinya disalahgunakan oleh orang lain, sedangkan seorang perempuan yang berkekuatan akan memberikan guna terbaik bagi orang lain.
Seorang perempuan yang kuat saat melakukan kesalahan, bertekad tak akan mengulanginya, sedangkan seorang perempuan yang berkekuatan sadar bahwa selalu ada hikmah dari kesalahannya.
Seorang perempuan yang kuat melangkah dengan mantap, sedangkan seorang perempuan yang berkekuatan yakin bahwa jikapun ia terjatuh Tuhan akan menolongnya.
Seorang perempuan yang kuat menunjukkan rasa percaya diri di wajahnya, sedangkan seorang perempuan yang berkekuatan menunjukkan keanggunan.
Seorang perempuan yang kuat selalu percaya bahwa ia memang cukup kuat menempuh setiap perjalanan, sedangkan seorang perempuan yang berkekuatan selalu percaya bahwa setiap perjalanan akan memberinya kekuatan.
Dikutip dari buku “Ummi Inside” oleh Misbahul Huda halaman 271

Jangan Banyak Membicarakan Tentang Dirimu Sendiri

12.38 1 Comments
Sebel ga sih kalau lagi baca artikel atau melihat akun media sosial milik seseorang yang banyak membicarakan tentang dirinya?
Sama, saya juga sebel. Apalagi pernah merasa melakukannya. Dulu saya pernah terlalu kagum terhadap diri sendiri, terhadap pencapaian diri sendiri, sampai tak henti-hentinya membicarakan tentang diri sendiri. Dipikir-pikir, saya kok mau muntah ya, lihat diri sendiri yang menulis tentang diri sendiri. Saya banyak bicara tentang “aku” atau “kami”. Padahal lebih baik kita membicarakan apa yang bisa kita lakukan untuk dunia, bukan? 
Padahal… kagum pada diri sendiri alias ‘ujub‘ dalam bahasa Arab itu ga boleh, lho. Fenomena membicarakan diri sendiri juga semakin marak setelah istilah selfie atau foto diri sendiri booming. Didukung teknologi kamera handphone yang sudah menyediakan kamera depan, tingkat pamer manusia semakin meningkat. Baik yang pamer melalui gambar maupun melalui tulisan. 
Ujub? Narsis sih kalau bahasa kerennya.
Narsisisme (dari bahasa Inggris) atau narsisme (dari bahasa Belanda) adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Orang yang mengalami gejala ini disebut narsisis (narcissist). Istilah ini pertama kali digunakan dalam psikologi oleh Sigmund Freud dengan mengambil dari tokoh dalam mitos Yunani, Narkissos (versi bahasa Latin: Narcissus), yang dikutuk sehingga ia mencintai bayangannya sendiri di kolam. Ia sangat terpengaruh oleh rasa cinta akan dirinya sendiri dan tanpa sengaja menjulurkan tangannya hingga tenggelam dan akhirnya tumbuh bunga yang sampai sekarang disebut bunga narsis.[1]– – Wikipedia, 2017
Coba deh, tengok artikel-artikel berikut ini:
Seram, bukan? 
Ini yang paling seram:
Tim peneliti dari University of Kassel, Jerman menemukan bahwa orang yang paling sering menggunakan kata ganti orang pertama tunggal seperti ‘saya’ atau ‘aku’ lebih cenderung mengalami depresi ketimbang orang yang lebih suka memakai kata ganti orang pertama jamak seperti ‘kita’ atau ‘kami’. – detik.com (2013)
Ayo bertekad mulai detik ini, jangan terlalu banyak membicarakan diri sendiri. Mungkin Anda bisa membaca Cara Berhenti Membicarakan tentang Diri Sendiri yang ditulis .
Semoga kita tidak termasuk orang yang suka riya’, sum’ah, dan ujub lagi, ya, Moms. Pokoknya apapun itu yang terkait dengan menyanjung atau membanggakan diri sendiri secara berlebihan. Aamiin.
Reminder terindah dari Mbak Adiar Esti

TAMBAH ILMUMU

12.35 0 Comments
Guru bertanya, “Coba jelaskan tentang penerapan ilmu matematika ini, terhadap kasus ini.”
Murid menjawab, “Hmm, saya kurang tahu bu. Saya tidak berani menjawab, karena saya belum punya ilmu nya.”
Guru kembali bertanya “Apakah kamu tidak pernah mendengar sama sekali tentang cara penerapan ilmu matematika ini terhadap kasus ini?”
Murid menjawab, “Hmm, pernah sih bu. Tapi saya cuman dengar saja, saya belum pernah memelajarinya. Kalau saya jawab, pastilah asal-asalan, dan saya ini jelas-jelas sok tahu, karena saya tidak tahu.”
Guru menjawab “Baiklah, kalau begitu, coba kamu pelajari lagi, karena ilmu itu kamu pakai sehari-hari. Tapi ibu senang denganmu, karena berani mengakui bahwa kamu belum tahu”
—
Seringkali kita takut untuk berbicara ilmu pelajaran yang tidak kita ketahui. Entah itu ilmu matematika, kimia, fisika, geografi, ekonomi, dan banyak ilmu lainnya. Tentu kita takut kalau bicara hal yang tidak kita ketahui, karena kita takut menyampaikan hal yang salah dapat berbahaya.
Tapi nyatanya, banyak dari kita yang terkadang berbicara hal-hal yang belum pernah kita pelajari secara keseluruhan.
Salah satu yang membuat saya jengah akhir-akhir ini, adalah banyaknya rekan-rekan semuslim yang akhirnya berbicara banyak tentang islam. Mulai dari bicara tentang pemilihan pemimpin, tipe orang munafik, menjatuhkan orang, menganggap orang sesat, mengkafirkan orang. Tapi menggunakan argumen seadanya, dan menggunakan penafsiran sebuah ayat yang ditafsirkan sendiri.
Dalam beberapa bulan terakhir, saya baru belajar tentang sirah nabawiyah, atau sejarah nabi. Bagi saya, sejarah itu membosankan, saya tidak menyenanginya, tapi saya berfikir “Bagaimana mungkin orang islam, tidak paham bagaimana dulu lahir”. Akhirnya saya paksakan pelajari.
Tidak disangka, dari sini, saya belajar banyak, terutama belajar bagaimana islam diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh Rasulullah SAW. Mulai dari cara menghadapi orang yang berbeda pandangan (kafir), cara menghadapi permasalahan, contoh orang munafik, cara memimpin, berkeluarga, bersabar, kenapa sebuah ayat bisa turun, dan banyak halnya. Dan saya belajar banyak, bagaimana islam diterapkan sehari-hari, dan ini tidak pernah saya pelajari selama berada di Sekolah Formal.
Setelah belajar har tersebut, saya berfikir, banyak hal yang masih saya belum kuasai. Semakin banyak hal yang belum saya kuasai, semakin saya pun takut untuk berbicara hal yang belum saya ketahui, karena bisa jadi, penafsiran yang salah, atau jawaban yang ngawang, bisa menjadi jawaban yang salah.
Maka kembali pada tulisan ke atas. Penting bagi kita untuk memelajari sebuah hal dulu, hingga tahu seluk-beluknya, hingga tahu sebenar-benarnya, agar kita tidak menjawab dengan sembarangan dan ngawang. Jangan sampai kita berbicara tentang islam sampai berbusa-busa, tapi kita sendiri tidak pernah memelajarinya. Kita hanya pernah mendengar, entah dari siapa, dari mana, dan kapan. Kita hanya bicara, karena malu jika diam, maka dianggap tidak paham.
Kalau kata Dr. Zakir Naik pada sesi di Bandung kemarin. “Jika tidak belajar islam, jangan bicara tentang islam.”
Sungguh, mulut yang baik, adalah yang diam tatkala dia tidak tahu.
Tambahlah ilmu kita. Bukankah Allah memberikan telinga, mata, dan otak pada manusia, agar kita yang lahir dalam kondisi tidak tahu dapat mati dalam kondisi yang tahu?
TAMBAHLAH ILMUMU